Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Confession

Ya… aku ingin hatimu datang padaku
Aku ingin melangkah ke dalam matamu yang sedih
TIdak bisa… kau tidak bisa menerima hatiku semudah itu
Tapi kuharap kau membuka hatiku dan menerimaku
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
Yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terleleap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
Tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Aku bisa merelakan hari-hariku untukmu
Tidakkah kau tahu yang paling berharga hanya dirimu?
Seluruh cintaku akan menjadi bintang
Yang akan melindungimu di sisimu
Aku ingin terleleap bersamamu di malam yang sejuk
Tidak banyak yang kumiliki
Tapi akan kuserahkan semuanya untukmu
Tolong terimalah cinta dan sedikit mimpiku
Terima kasih…
Aku akan hidup demi dirimu yang bersedia menerima hatiku
Walaupun cahaya di wajahmu meredup
Aku akan tetap mencintaimu…
Aku akan tetap mencintaimu…
Aku akan tetap mencintaimu…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Dua Pasang Mata

Theola, my dearest sister. . .
Entah mengapa aku yakin… Suatu saat, kamu akan datang ke sini. Kamu akan menemukan surat ini.
Theola, ada banyak hal yang harus aku katakana padamu. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan padamu. Tapi aku bahkan nggak tau harus mulai dari mana. But…, let me try to make it simple… Satu kenyataan yang paling berat adalah…aku harus mengaku padamu. Aku membohongimu habis-habisan selama ini. Tapi tentu kamu nggak akan kaget lagi. Karena pada saat kamu membaca surat ini, pasti kamu sudah tahu itu….
Theola…tujuh tahun yang lalu, aku merampas tiga hal penting dari kamu. Viora, sepasang matamu, dan kepercayaanmu padaku. Aku tahu, aku bersalah untuk semua itu. Seandainya kamu tahu, Theo… Hari itu juga kebahagiaanku berakhir. Karena kebahagiaanku telah aku buang bersamaan dengan kepergian Viora. Bersama dengan hilangnya kehidupan di sepasang mata indahmu. Bersama dengan sirnanya kepercayaanku padamu….
Setelah itu? Setelah itu aku habiskan hidupku untuk melarikan diri dari kenyataan, Theola. Untuk menyesali dan meratapi kesalahanku padamu.
Empat tahun tiga bulan enam hari yang lalu. Kata orang, hujan kadang datang tanpa tanda-tanda. Begitu juga kesempatan itu. Kesempatan itu juga datang padaku tanpa terduga. Tiba-tiba saja aku berpikir, aku bisa menebus semua itu. Dengan menjadi orang lain. Dengan menjadi sosok yang benar-benar baru untukmu. Hanya supaya aku bisa menjagamu. Hanya untuk bisa melindungimu. Hanyauntuk bisa menyayangimu. Itu saja.
Nyatanya, semuanya tak berjalan selancar yang kurencanakan bukan? Padahal…harusnya aku sudah tahu, Theola. Harusnya aku sudah belajar dari pengalaman-pengalamanku. Rencanaku…semua rencanaku tak pernah bisa jadi kenyataan. Seperti kecelakaan-kecelakaan itu. Yang sama sekali tak sesuai dengan rencana semulaku.
Theola, kini akhirnya aku bisa melihat di mana letak kesalahanku selama ini. Tapi semuanya sudah sangat terlambat, Theola. Karena aku sudah tak tahu lagi cara memperbaikinya.
Theola…akhirnya…aku minta maaf. Sungguh-sungguh minta maaf. Untuk pernah hadir di hidupmu. Untuk pernah menghancurkan hidupmu. Untuk selalu membuat kamu terluka. Untuk begitu lemah. Untuk begitu pengecut. Untuk begitu gagal. Untuk menjadi tragedy terbesar dalam hidupmu. Untuk merasa sangat menyayangimu, tapi tak pernah bisa membawa kebaikan dalam hidupmu. Dan terutama, aku minta maaf. Karena aku memutuskan memilih jalan yang sama sekali salah ini.
Tapi Theola, kuberikan apa yang masih bisa kuberikan padamu. Kulakukan apa yang masih bisa kulakukan untukmu.
Theolaku sayang…kematian kukalahkan untukmu. Sepasang mata kuberikan padamu. Dan selebihnya, tak akan pernah ada lagi yang bis akulakukan untukmu. Tapi berbahagialah. Dan berbahagialah selalu. Hanya itu satu-satunya keinginanku.
Love,
Ralphie Devorian Arras

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ada Seseorang Menjagaku

Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan
menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian dia duduk, meletakkan tasnya di pangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya.
Setahun sudah lewat sejak Susan, tiga puluh empat, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan tiba-tiba terlempar ke dunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustrasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya. "Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya dia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu penglihatannya takkan pernah pulih lagi.
Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustrasi. Dia menjadi sangat bergantung kepada Mark, suaminya.
Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekad untuk membantunya menemukan
kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran paling sulit yang pernah dihadapinya.
Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggiran kota yang berseberangan. Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru
membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. Bagaimana reaksinya nanti?
Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. "Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu ke mana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku."
Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi dia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore dia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan, sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri.
Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, mengenakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana caranya menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menentukan di mana dia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus yang dapat mengawasinya dan menyisakan satu kursi kosong untuknya. Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang
tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. Meskipun pengaturan
itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apa pun dan tidak akan pernah menyerah.
Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran, dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan.
Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal.
Pada hari Jumat pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata, "Wah, aku iri padamu."
Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak; Lagi pula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup? Dengan penasaran, dia bertanya kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri padaku?"
Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu." Susan tidak tahu apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu?" "Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung," kata sopir itu.
Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa merasakan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberinya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk meyakinkan diri hadiah cinta yang bisa menjadi penerang di mana pun ada kegelapan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Raihlah Dengan Iman

Sayang, tahukah engkau?
Memilikimu, merasakan kehadiranmu dalam diriku
Adalah suatu kemustahilan yang terwujud indah
Subhanallah! Allahu Akbar! Betapa Allah swy. Mencintai kita, bukan?

Sayang, tahukah engkau?
Merengkuhmu dalam dekapanku
Adalah kenikmatan yang belum pernah kukecap
Kunikmati semua gerakanmu
Termasuk lezat air senimu
Dan harum kotoranmu
Saat itu kau hanya mengonsumsi ASI selama lima bulan penuh

Sayang, tahukah engkau?
Kelak besar nanti dunia mungkin tak lagi indah dalam pandanganmu
Namun akan tetap indah bila kau memakai kacamata iman
Jangan pernah biarkan hutan lebat terbakar lagi
Jangan pernah biarkan banjir besar merendam lagi
Jangan pernah biarkan lautan tercemar lagi
Jangan pernah biarkan jagad raya sunyi dari takbir memuji Ilahi Rabbi

Sayang, tahukah engkau?
Allah swt. Membekali kita dengan nikmat iman dan akal
Gunakanlah iman sebagai dasar dari semua perilaku
Bila iman terpatri dengan baik dalam iiwamu
Insya Allah, lautan kehidupan ini hanyalah setetes air yang perlu kau pahami

Sayang, tahukah engkau?
Kau akan sanggup memindahkan gunung dengan akalmu
Tapi tidak nafsumu
Kau akan sanggup menguras lautan
Tapi tidak nafsumu
Kau akan sanggup mengarungi semesta raya
Tapi tidak nafsumu

Sayang, tahukah engkau?
Hanya iman yang mampu menaklukkan nafsumu
Raihlah dengan iman
Keridhaan Ilahi Rabbi.
Honey, welcome to real world!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perempuan Itu

Masih kuingat perempuan itu
Setiap pagi setelah menanak nasi
Pergi mencari sesuap nasi
Sebagai buruh cuci
Di rumah ‘Uwak Haji

Roman wajahnya teduh tegar
Aku memperoleh kesejukan
Saat menatap bening telaga dalam hitam bola matanya

Langkah kakinya teratur kekar

Aku tak mampu menyamai kecepatannya hingga dia
Mengangkat dan menggendongku dalam pelukannya

Masih kuingat perempuan itu
Dalam rahimnya aku tumbuh
Sebuah tempat bermain yang paling mengasyikkan
Aku meloncat berputar
Dan menendan-nendang sepuasku

Aku tak tahu, lho
Kalau perempuan itu menderita karenanya
Tapi aku yakin
Perempuan itu juga amat bahagia

Harus kuakui sejujurnya
Aku sebal dan kesal harus keluar dari dunia yang paling
Nyaman untuk dihuni,
Rahim perempuan itu
Aku protes!
Aku berontak!
Aku menangis kuat-kuat, oe …! Oee …! Oeee …!

Masih kuingat perempuan itu
Harum tubuhnya menjadi penyebab aku terlelap
Dalam dekapan hangatnya
Obrolan tengah malam berdua bersamanya merasuk sukma dan otakku
Doa yang dinaikkannya dipertiga malam
Menembus langit ketujuh, bersemayam, mengendap
Dan akhirnya jatuh berupa butir-butir kasih sayang
Menjadi pupuk terbaik bagi pertumbuhan batinku

Mak,
Engkaulah perempuan itu
Perempuan yang kucintai sepenuh hati
Tak ada daya upaya sekuat tekadmu
Tak ada kasih sayang setulus milikmu
Tak sanggup aku mengingkari cintamu
Tak sanggup aku membalas kasihmu

Mak,
Bukan cuma aku yang membutuhkanmu
Bangsa ini pun bertopang pada pilarmu
Pilar kejujuran, kebersahajaan, keanggunan, keteladanan sekaligus kekuatanmu
Rabbiqfirli wali walidaya warhamhumma kama rabbayani shaqira’
Ya Allah,
Kasihi dan sayangilah dia
Sebagaimana dia mengasihi dan menyayangiku di waktu aku kecil
I love you, Mak.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS