Theola, my dearest sister. . .
Entah mengapa aku yakin… Suatu saat, kamu akan datang ke sini. Kamu akan menemukan surat ini.
Theola, ada banyak hal yang harus aku katakana padamu. Ada banyak hal yang harus aku jelaskan padamu. Tapi aku bahkan nggak tau harus mulai dari mana. But…, let me try to make it simple… Satu kenyataan yang paling berat adalah…aku harus mengaku padamu. Aku membohongimu habis-habisan selama ini. Tapi tentu kamu nggak akan kaget lagi. Karena pada saat kamu membaca surat ini, pasti kamu sudah tahu itu….
Theola…tujuh tahun yang lalu, aku merampas tiga hal penting dari kamu. Viora, sepasang matamu, dan kepercayaanmu padaku. Aku tahu, aku bersalah untuk semua itu. Seandainya kamu tahu, Theo… Hari itu juga kebahagiaanku berakhir. Karena kebahagiaanku telah aku buang bersamaan dengan kepergian Viora. Bersama dengan hilangnya kehidupan di sepasang mata indahmu. Bersama dengan sirnanya kepercayaanku padamu….
Setelah itu? Setelah itu aku habiskan hidupku untuk melarikan diri dari kenyataan, Theola. Untuk menyesali dan meratapi kesalahanku padamu.
Empat tahun tiga bulan enam hari yang lalu. Kata orang, hujan kadang datang tanpa tanda-tanda. Begitu juga kesempatan itu. Kesempatan itu juga datang padaku tanpa terduga. Tiba-tiba saja aku berpikir, aku bisa menebus semua itu. Dengan menjadi orang lain. Dengan menjadi sosok yang benar-benar baru untukmu. Hanya supaya aku bisa menjagamu. Hanya untuk bisa melindungimu. Hanyauntuk bisa menyayangimu. Itu saja.
Nyatanya, semuanya tak berjalan selancar yang kurencanakan bukan? Padahal…harusnya aku sudah tahu, Theola. Harusnya aku sudah belajar dari pengalaman-pengalamanku. Rencanaku…semua rencanaku tak pernah bisa jadi kenyataan. Seperti kecelakaan-kecelakaan itu. Yang sama sekali tak sesuai dengan rencana semulaku.
Theola, kini akhirnya aku bisa melihat di mana letak kesalahanku selama ini. Tapi semuanya sudah sangat terlambat, Theola. Karena aku sudah tak tahu lagi cara memperbaikinya.
Theola…akhirnya…aku minta maaf. Sungguh-sungguh minta maaf. Untuk pernah hadir di hidupmu. Untuk pernah menghancurkan hidupmu. Untuk selalu membuat kamu terluka. Untuk begitu lemah. Untuk begitu pengecut. Untuk begitu gagal. Untuk menjadi tragedy terbesar dalam hidupmu. Untuk merasa sangat menyayangimu, tapi tak pernah bisa membawa kebaikan dalam hidupmu. Dan terutama, aku minta maaf. Karena aku memutuskan memilih jalan yang sama sekali salah ini.
Tapi Theola, kuberikan apa yang masih bisa kuberikan padamu. Kulakukan apa yang masih bisa kulakukan untukmu.
Theolaku sayang…kematian kukalahkan untukmu. Sepasang mata kuberikan padamu. Dan selebihnya, tak akan pernah ada lagi yang bis akulakukan untukmu. Tapi berbahagialah. Dan berbahagialah selalu. Hanya itu satu-satunya keinginanku.
Love,
Ralphie Devorian Arras
Dua Pasang Mata
07.58 |
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 komentar:
Posting Komentar